A. Judul
“ UPAYA MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN BANGUN DATAR SEGIEMPAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD(STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION) PADA SISWA KELAS VI SDN O5 KEJENE TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011 “
(Suatu Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V Semester Genap SD Negeri 05 Kejene Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang )
B. Latar Belakang Masalah
Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju/mundur, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Pendidikan akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang membangun dirinya serta sama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pemerintah telah banyak melakukan berbagai upaya baik mengenai pembaharuan kurikulum dan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, pengadaan buku pelajaran dan sarana belajar, penyempurnaan sistem penilaian, penataan organisasi serta usaha-usaha lain yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Sebagai peningkatan kualitas pendidikan, matematika merupakan mata pelajaran yang memegang peranan penting. Hal itu dapat terlihat bahwa di setiap jenjang pendidikan pasti ada mata pelajaran tersebut, di SD, SMP, SMA, dan semuanya memiliki alokasi waktu yang lebih dibanding mata pelajaran yang lain. Matematika dapat membantu siswa untuk berpikir secara ilmiah, logis, dan kritis.
Mengingat pentingnya peranan matematika, maka mata pelajaran matematika perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh terutama dalam menentukan strategi belajar mengajar yang tetap, seperti pengalokasian waktu dan metode pembelajaran. Keanekaragaman materi pelajaran memerlukan adanya variasi dalam pembelajaran salah satunya penggunaan metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan metode pembelajaran diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Oleh karena itu metode pembelajaran yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Metode pembelajaran juga diperlukan agar dalam pembelajaran siswa tidak merasa bosan, sehingga proses pembelajaran berjalan menyenangkan. Setiap jenis metode pembelajaran harus dapat mencapai tujuan tertentu. Seorang guru harus mampu menggunakan metode pembelajaran dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut.
Oleh sebab itu, seorang guru yang telah menguasai bahan pelajaran juga dituntut dapat mengetahui beberapa macam metode pembelajaran. Sebab peranan guru bukan hanya semata-mata sebagai pencetak kepribadian, memberikan pengetahuan dengan kata-kata atau mendemonstrasikan bahan pelajaran atau tingkah laku yang harus ditiru oleh siswa, tetapi lebih dari itu guru dituntut sebagai pengatur situasi belajar, sebagai peserta atau perantara dalam kegiatan proses belajar mengajar. Sebagai konsekuensinya adalah titik berat proses belajar mengajar berpindah dari guru kepada siswa. Ini menyangkut keaktifan siswa dalam belajar. Tugas guru dalam hal ini adalah menciptakan suasana yang nyaman sehingga memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik, nyaman, menyenangkan dan efisien.
Berdasarkan fakta di lapangan, ditemukan bahwa pada umumnya siswa kurang memberi respon yang baik terhadap matematika, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kesulitan belajar dalam pelajaran matematika. Selain itu fenomena yang diperlihatkan siswa yaitu kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran, walaupun ada beberapa siswa yang aktif dalam proses balajar mengajar tetapi siswa cepat melupakan materi pelajaran meskipun materi tersebut baru saja diajarkan. Hal ini akan mengakibatkan sulitnya siswa dalam mempelajari materi selanjutnya.
Timbulnya kondisi di atas kemungkinan diakibatkan kondisi proses belajar mengajar yang dirasakan saat ini cenderung bersifat monoton yaitu menyelesaikan materi, sehingga materi yang diterima siswa kurang bermakna dan tidak mampu mengendap di dalam memori siswa. Kelemahan lain yaitu selama ini siswa ditempatkan sebagai peserta didik yang sifatnya pasif, sehingga potensi-potensi yang dimiliki siswa sulit dikembangkan yang pada akhirnya siswa kurang memperlihatkan keaktifan dalam proses belajar mengajar.
Oleh karena itu dalam proses belajar matematika guru harus memperlihatkan agar siswa belajar aktif, gembira mengerti serta aktif, efektif dan efisien, sebab belajar aktif dapat menyebabkan ingatan mengenal pelajaran tahan lama dan menambah pengetahuan diri mereka pada pelajaran matematika. Guru dapat menerapkan metode pembelajaran kooperatif salah satu tipe pembelajaran kooperatif yaitu tipe STAD (Student Teams Achievment division).
Menurut informasi dari guru, kelas V SD Negeri 05 Kejene nilai rata rata ulangan harian pokok bahasan Segiempat semester II tahun pelajaran 2010/2011 sebesar 5,8. Rendahnya prestasi belajar matematika khususnya pokok bahasan segiempat dikarenakan pembelajarannya secara konvensional, artinya guru mengajar tanpa menggunakan metode yang tepat. Hal lainnya anak belum termotivasi untuk belajar mandiri, hal ini ditandai dengan rasa percaya diri yang masih kurang misal menolak bila disuruh maju selain itu masih banyak siswa yang bersikap pasif karena sikap guru yang mendominasi selama pembelajaran sehingga mereka cenderung menunggu sajian materi dan guru. Metode STAD adalah metode yang perlu diterapkan agar siswa belajar mandiri, aktif dan dapat termotivasi untuk meningkatkan prestasinya.
Berdasarkan uraian di atas, diambil judul penelitian, yaitu “ Upaya Meningkatkan Hasil Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Bangun Datar Segiempat Melalui PembelajaranKooperatif Tipe Stad (Student Teams Achievment Division) Pada Siswa Kelas V SDN O5 Kejene Tahun Pelajaran 2010 / 2011 “
( Suatu Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V Semester Genap SD Negeri 05 Kejene Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang )
C. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Matematika memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan sehingga perlu mendapat perhatian yang sunguh-sungguh. Keanekaragaman materi dalam pembelajaran memerlukan adanya variasi agar siswa tidak merasa bosan.
2. Guru sebagai pengatur situasi belajar harus dapat menciptakan suasana yang nyaman agar siswa dapat belajar dengan baik, dan lebih aktif sehingga hal tersebut akan meningkatkan prestasi belajar mereka.
3. Metode pembelajaran yang baik, menarik dan menyenangkan akan membuat siswa tertarik untuk mempelajari matematika. Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD metode yang secara teori menarik dan menyenangkan dalam pembelajaran matematika.
D. Pembatasan Masalah
Mengingat sangat luasnya permasalahan dalam penelitian ini, maka perlu adanya pembatasan masalah, yaitu :
1. Perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
2. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara mengadakan kegiatan belajar mengajar materi segiempat.
3. Model pembelajaran STAD diharapkan dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam belajar matematika sehingga akan meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Prestasi belajar matematika dibatasi pada pencapaian keberhasilan siswa yang ditandai dengan nilai hasil tes.
5. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester genap MTs Salafiyah kalimas.
E. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan masalah yang telah diuraikan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Bagaimana persentase aktifitas siswa pada model pembelajaran dengan tipe STAD?
2. Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Prestasi siswa yang menggunakan model pembelajarankonvensional?
F. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan :
1. Menentukan persentase aktifitas siswa pada model pembelajaran dengan tipe STAD.
2. Menentukan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
G. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi Siswa
a. Siswa merasa senang mendapat pengalaman baru dengan implementasi model pembelajaran STAD.
b. Memupuk keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat di dalam kelas.
c. Siswa mampu membuat soal dan menyelesaikan sendiri.
d. Prestasi belajar meningkat melalui implementasi model pembelajaran STAD.
2. Manfaat bagi Guru
a. Meningkatkan kreatifitas guru dalam mengembangkan materi pelajaran.
b. Memberikan kesempatan guru lebih menarik siswa dalam proses belajar mengajar.
c. Guru akan mendapakan suasana kelas yang lebih aktif dalam belajar mengajar.
d. Guru semakain mantap dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model-model pembelajaran yang tepat dan menarik.
3. Manfaat bagi Sekolah
a. Keberhasilan sekolah untuk meningkatkan sumberdaya manusia dapat ditingkatkan.
b. Dapat merangsang guru-guru yang lain untuk memperbaiki metode pembelajaran yang mereka terapkan.
4. Manfaat bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan bagi penulis sebagai seorang calon guru.
H. Landasan Teori dan Hipotesis
1. Pembelajaran Aktif
Matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap susah oleh sebagian siswa, karena mereka kurang memahami apa yang diajarkan pada saat berlangsungnya pembelajaran. Guru telah mengupayakan agar siswa tahu dengan apa yang dijelaskan, namun kebanyakan siswa lebih banyak diam karena mereka malas untuk bertanya padahal dengan aktif mereka akan paham. Dalam pembelajaran kelompok diharapkan siswa akan aktif sehingga siswa yang paham memberikan penjelasan dengan bahasa mereka sendiri untuk menjelaskan kepada siswa yang tidak paham, jadi aktifitas siswa disini harus lebih ditingkatkan supaya semua siswa akan jelas dengan materi yang sedang dipelajari.
2. Metode Mengajar/Pembelajaran
Metode mengajar/ pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh sebab itu peranan metode pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses mengajar dan belajar. Dengan metode pembelajaran diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik kalau siswa banyak aktif dibanding dengan guru. Oleh karena itu metode pembelajaran yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Dengan metode pembelajaran diharapkan siswa akan lebih aktif. Dengan keaktifan itu siswa dapat saling berinteraksi, siswa yang tahu memberikan penjelasan kepada siswa yang belum tahu atau belum jelas. Sehingga penerapan metode pembelajaran diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif.
3. Metode Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)
Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama dalam kelompok untuk mencapai ketuntasan belajar. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang dilakukan dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.
Hal-hal yang harus dipenuhi dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
a. Siswa yang tergabung dalam kelompok harus merasa bahwa mereka bagian dari sebuah tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai.
b. Siswa menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah masalah kelompok, dan berhasil tidaknya menjadi tanggungjawab bersama-sama kelompok .
c. Siswa harus mendiskusikan masalahnya dengan seluruh anggota kelompoknya untuk mencapai hasil yang maksimal.
Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap belajar kooperatif. Sistem pengajaran cooperative learning bisa didefinisikan sebagai sistem kerja atau belajar kelompok yang terstruktur. Lima unsur pokok yang termasuk dalam struktur ini adalah sebagai berikut:
a. Saling ketergantungan yang positif antar anggota kelompok
Keberhasilan kelompok sangat bergantung pada usaha setiap anggota kelompok untuk saling belajar dan mengajari teman-temannya sehingga teman sekelompoknya paham. Siswa yang berkemampuan tinggi mengajari siswa yang berkemampuan rendah sehingga semua anggota paham/jelas.
b. Tanggung jawab perseorangan
Setiap anggota diharuskan bekerja menyumbangkan pikiran untuk menyelesaikan tugas dan pada akhir pembelajaran siswa harus berusaha agar memperoleh nilai sehingga akan timbul tanggung jawab untuk tiap anggota.
c. Tatap muka antar anggota
Setiap anggota dapat saling berinteraksi untuk saling menukar pemikiran mereka.
d. Komunikasi antar anggota
Unsur inilah yang menuntut siswa untuk dapat berkomunikasi dengan sesama anggota kelompok.
e. Evaluasi proses kelompok
Guru perlu memberikan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasamanya.
4. Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik untuk guru yang baru mulai menggunakan pendekatan kooperatif dalam kelas, STAD juga merupakan suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri atas lima komponen utama, yaitu :
a. Pengajaran
Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan, dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan menekankan dalam penyajian materi pelajaran.
b. Belajar kelompok
Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman untuk menguasai materi.
c. Kuis
Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang dipelajari siswa dalam belajar kelompok.
d. Skor pengembangan/ skor peningkatan individu
Setelah diberikan kuis, hasil kuis itu diskor dan tiap individu diberikan skor pengembangan. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepada siswa suatu sasaran yang dapat dicapai jika mereka bekerja keras dan memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Pengelola skor hasil kerja sama siswa dilakukan dengan urutan sebagai berikut : skor awal, skor tes, skor peningkatan dan skor kelompok. Penilaian kelompok berdasarkan skor peningkatan individu, sedangkan skor peningkatan tidak didasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.
e. Penghargaan kelompok
Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberikan penghargaan kelompok yang lain. Penghargaan pada kelompok terdiri atas tiga tingkat, yaitu:
Super team diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 25
Great team diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 20
Good team diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 15
5. Segiempat
Segiempat adalah bangun datar yang dibentuk / dibatasi oleh garis lurus sebagai sisinya. Bangun datar yanga akan dibahas meliputi persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang.
a. Persegi panjang
Persegi panjang adalah segiempat dengan sisi-sisinya yang berhadapan sejajar dan sama panjang dan keempat sudut-sudutnya siku-siku.
AB,CD disebut panjang sisi persegi panj
ang
BC, AD disebut lebar
AC, BD disebut diagonal
Keliling dan luas persegi panjang
1) Keliling
Keliling persegi panjang sama dengan jumlah seluruh panjang sisinya. Jika ABCD adalah persegi panjang dengan panjang p dan lebar l, maka keliling ABCD= p + l +p + l, dan dapat ditulis sebagai berikut :
K = 2 . p + 2 . l = 2 (p + l)
2) Luas
Luas persegi pajang sama dengan hasil kali panjang dan lebarnya. Berdasarkan gambar tersebut, maka luas ABCD= panjang x lebar dan dapat ditulis sebagai berikut :
L = p x l
b. Persegi
Persegi adalah persegi panjang yang semua sisinya sama panjang.
S R ABCD adalah persegi dengan AB=BC=
CD=DA
Pada gambar disamping, sisi perseginya
P Q adalah PQ, QR, RS,ST.
PR dan QS merupakan diagonal persegi.
Keliling dan luas persegi
S R
s s
P s Q
1) Keliling
Keliling persegi adalah jumlah panjang seluruh sisi-sisinya. Pada gambar diatas PQRS adalah persegi dengan panjang sisi s. Maka keliling PQRS adalah K= s + s + s+ s dan dapat ditulis : K = 4 s
2) Luas
Luas persegi sama dengan kuadrat panjang sisinya. Luas PQRS dapat ditulis sebagai berikut :
L = s x s
c. Jajargenjang
Jajargenjang adalah segiempat dengan kekhususan yaitu sisi yang berhadapan sejajar dan sama panjang.
Keliling dan luas jajargenjang
n n
m
1) Keliling
Menentukan keliling jajargenjang dapat dilakukan dengan cara menjumlahkan semua panjang sisinya. Sisi-sisi pada jajargenjang yang sejajar adalah sama panjang. Apabila panjang 2 sisi yang tidak sejajar masing-masing m dan n, maka keliling jajargenjang ditentukan oleh :
Keliling = m + n + m + n = 2 (m + n)
2) Luas
Salah satu cara untuk menghitung luas jajargenjang adalah mengubahnya menjadi persegi panjang. Pengubahan ini dilakukan dengan cara memotong bangun jajargenjang tersebut.
Sehingga di dapat bangun segitiga dan bangun lainnya.
Tinggi t
alas a
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :
· Luas jajargenjang = alas x tinggi
· Pada jajargenjang tinggi selalu tegak lurus dengan alas.
d. Belah ketupat
Belah ketupat adalah segiempat yang dibentuk dari segitiga sama kaki dan bayangannya, dengan alas sebagai sumbu cermin.
A Segitiga AB
D adala
h segitiga sama kaki
B D Segitiga BCD adalah cermin dari segitiga ABD.
C Sedangkan BD adalah sebagai cermin.
Keliling dan luas belah ketupat
1) Keliling
Perhatikan belah ketupat ABCD diatas dengan panjang sisi sama dengan s dan titik antar diagonalnya di o
Keliling ABCD = AB + BC + CD + DA
= s + s + s + s
= 4s
Keliling belah ketupat = 4 x panjang sisi
2) Luas
Untuk menentukan luas belah ketupat, kita dapat menggunakan rumus jajargenjang yaitu alas x tinggi, karena belah ketupat merupakan bentuk khusus dari jajargenjang.
Rumus lain dari belah ketupat dapat pula ditunjukkan sebagai berikut :
a
A
b B D Luas belah ketupat = ½ (a + b)
C
e. Layang-layang
Layang-layang adalah segiempat yang dibentuk oleh dua segitiga sama kaki yang mempunyai alas yang sama, dengan cara menghimpitkan alasnya.
Keliling dan luas layang-layang
D
y y
A C
x x
B
1) Keliling
Perhatikan layang-layang ABCD di atas. Jika layang-layang ABCD mempunyai panjang sisi yang terpanjang = x dan panjang sisi yang pendek = y maka, Keliling layang-layang = 2 . (x + y)
2) Luas
Luas layang-layang = Luas Δ ADC + Luas Δ ABC
= ½. AC. OD + ½ . AC. BO
= ½ . AC (OD+BO)
= ½ . AC.BD
Luas layang-layang = ½ x ( hasil kali kedua diagonalnya)
6. Hakikat Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan keterampilan dan nilai sikap (Darsono 2001:4).
Beberapa teori belajar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Teori belajar menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar. Teori Thorndike ini juga disebut sebagai aliran koneksionisme.
b. Teori belajar menurut Watson
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tidak perlu untuk diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum.
c. Teori belajar menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu teori hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
d. Teori belajar menurut Edwin Guthrie
Ia juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan Clark hull. Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang.
e. Teori belajar menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Menurutnya hubungan antara stimulus dan respon yang yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.
Demikian juga dengan respon yang akan diberikan akan mempunyai konsekuensi. Konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu mamahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut.
Skiner juga tidak sependapat dengan guthrie bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Berikut adalah alasan kenapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu :
1) Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
2) Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi bila hukuman berlangsung lama.
3) Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain agar ia terbebas dari hukuman.
7. Pembelajaran Konvensional
Metode konvensional merupakan pendekatan yang dilakukan dengan mengkombinasikan bermacam-macam metode pembelajaran. Dalam prakteknya metode ini berpusat pada guru (teacher centered) atau guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran yang dilakukan berupa metode ceramah, metode expositori, memberikan contoh soal, tanya awab, mengerjakan latihan soal, pemberian tugas.
Metode ceramah merupakan metode pembelajaran yang paling banyak digunakan guru dalam dunia pendidikan (konvensional). Hal ini, dapat dimaklumi karena ceramah yang paling banyak dilakukan. Sebaliknya, siswa belum merasa belum belajar kalau belum mendengarkan ceramah guru.
Menurut Nurhadi (2004:35) ciri-ciri pembelajaran konvensional adalah
a. siswa adalah penerima informasi secara pasif
b. siswa belajar secara individual
c. pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
d. keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
e. siswa secara aktif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran
f. guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
g. pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa
h. pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas
I. Kerangka Berpikir
Soal-soal cerita tentang segiempat mungkin akan membuat siswa merasa bosan karena mereka sulit memahami soal tersebut sehingga memerlukan adanya keaktifan mereka dalam belajar. Namun kebanyakan siswa lebih banyak pasif dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa saling berdiskusi tukar pendapat dengan teman satu kelompoknya dan saling membantu antara teman terutama yang mengalami kesulitan belajar. Oleh karena itu STAD diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
J. Hipotesis
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
H0 : Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan prestasi siswa yang menggunakan model pembelajarankonvensional.
Ha : Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
K. Metode Penelitian
1. Metode Penentuan Subjek Penelitian
a. Populasi dan sampel
1) Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006:130). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 05 Kejene tahun pelajaran 2010 / 2011 yang berjumlah 55 siswa yang terdiri atas dua kelas, sebagaimana pada tabel 1
Tabel 1. Jumlah Siswa Setiap Kelas
No.
|
Kelas
|
Jumlah siswa
|
1
|
VA
|
29
|
2
|
VB
|
26
|
Jumlah
|
55
|
2) Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131).Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan cluster random sampling, berdasarkan kelas yakni pengambilan dua kelas secara acak, dari kelas yang ada di SD Negeri 05 Kejene tersebut.
a) Kelas pertama yaitu kelas VA sebagai kelas eksperimen, yaitu kelas yang menggunakan metode pembelajaran STAD dalam pemecahan masalah materi segiempat.
b) Kelas kedua yaitu kelas VB sebagai kelas kontrol yaitu kelas yang menggunakan metode pembelajaran konvensional terhadap pemecahan masalah materi segiempat.
b. Tempat dan Waktu Penelitian
1) Tempat Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di SD Negeri 05 Kejene, yang terletak di Jalan raya Dukuh Cereme Desa Kejene Randudongkal.
2) Waktu Penelitian
Waktu yang dipergunakan dalam pengambilan data kurang lebih satu bulan, yang dimulai pada bulan Mei 2011 sampai dengan Juni 2011.
c. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau segala sesuatu yang menjadi titik pengamatan suatu penelitian. Hasil pengukuran suatu variabel bisa konstan atau tetap, bisa pula berubah-ubah.
1) Variabel Bebas
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang diselidiki hubungannya. Variabel bebas dalam hal ini adalah aktifitas pada pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe Student Team Achievment Divisison (STAD)(X1) dan konvensional (X2).
2) Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang diramalkan akan timbul dalam hubungan yang fungsional (sebagai akibat). Variabel terikat dalam hal ini adalah hasil prestasi belajar siswa (Y).
2. Metode Pengumpulan Data Penelitian
a. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006:150)
Metode tes digunakan untuk memperoleh data tentang hasil prestasi belajar siswa yang menjadi sampel penelitian pada kompetensi materi Bangun datar. Dalam metode ini bentuk soal yang digunakan adalah pilihan ganda yang jawabannya dapat diperoleh dengan memilih alternatif jawaban yang disediakan.
b. Metode Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis(Arikunto, 2006:158). Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya. Dalam hal ini digunakan dokumen yang diperoleh dari guru kelas dan instansi sekolah. Catatan dokumentasi tersebut antara lain :
1) Buku laporan guru kepada wali murid (raport) digunakan untuk mengetahui prestasi siswa dalam belajar matematika.
2) Data nilai hasil semester
3) Buku induk untuk mengetahui data awal siswa
Seluruh dokumentasi di atas digunakan untuk membantu penulis dalam melakukan identifikasi guna menentukan anak-anak yang memiliki prestasi rendah dalam belajar dan memiliki kebiasaan buruk dalam belajar yang akan dijadikan terdiri atas penelitian.
c. Metode observasi
Metode observasi pada penelitian ini digunakan untuk mengukur aktivitas siswa dalam kelas.
3. Uji Coba Instrumen
Data penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen tes. Teknik pengujian instrumen yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Uji Validitas
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus point biserial karena soal yang digunakan berupa soal pilihan ganda, apabila jawaban dari setiap soal benar maka bernilai 1 dan apabila jawaban setiap soal salah maka bernilai 0.
Rumus point biserial adalah seperti berikut :
Keterangan :
rpb : koefisiensi korelasi point biserial
Mp : mean skor dari terdiri atas yang mendapat nilai 1 pada item i
Mt : mean skor seluruh terdiri atas
St : standar deviasi skor total
p : proporsi terdiri atas mendapat nilai 1 pada item. Bila N adalah jumlah seluruh subjek, maka p adalah jumlah subjek yang menjawab skor 1 pada item 1 dibagi N.
q : 1 - p
(Mardapi, 2004:37)
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus KR-20, karena dalam pengujiannya apabila jawaban dari setiap soal benar maka bernilai 1 dan apabila jawaban setiap soal salah maka bernilai 0. Rumus yang digunakan yaitu:
Keterangan :
r11 : reliabilitas instrumen
k : banyak butir pertanyaan
Vt : Variansi total
p : subjek yang skornya 1

N
q : subjek yang menjawab soal salah (1-p)
: jumlah hasil perkalian p dan q
(Arikunto, 2006:188)
Kriteria :
Jika rhitung ≥ rtabel, maka tes tersebut reliabel
Jika rhitung < rtabel, maka tes tersebut tidak reliabel
Harga r11 yang diperoleh dikonsultasikan dengan nilai rtabel dari product moment. Apabila r11 > rtabel maka tes tersebut telah reliabel.
c. Taraf Kesukaran Soal
Untuk menentukan taraf kesukaran tiap butir soal digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :

: taraf kesukaran soal

: banyak peserta tes yang menjawab benar item soal

: jumlah soal
(Arikunto, 2006:108)
Dengan kriteria :
0,00 £ P £ 0,30 : soal sukar
0,31 < P £ 0,70 : soal sedang
0,71 < P £ 1,00 : soal mudah
d. Daya Pembeda Soal
Daya beda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). (Arikunto, 2006: 211).
Untuk menghitung daya pembeda soal digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
D : daya beda soal
J : Jumlah peserta tes
JA : banyaknya peserta kelompok atas
JB : banyaknya peserta kelompok bawah
BA : banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar
BB : banyaknya peserta kelopok bawah yang menjawab soal itu dengan benar
PA : proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB : Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
(Sudjana, 2008:42)
Dengan kriteria :
0,00 £ D £ 0,20 : daya pembeda jelek (D)
0,20 < D £ 0,40 : daya pembeda cukup (C)
0,40 < D £ 0,70 : daya pembeda baik (B)
0,70 < D £ 1,00 : daya pembeda baik sekali (A)
Apabila D negatif berarti soal tidak baik (sebaiknya dibuang).
4. Metode Analisis Data Penelitian
a. Uji Prasyarat
Sehubungan dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi sebelum menganalisis data hasil penelitian, maka harus dilakukan Uji Prasyarat analisis data hasil penelitian untuk memeriksa keabsahan sampel.
1) Uji Kesetaraan Sampel
Uji kesetaraan dilakukan sebelum penelitian untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berasal dari titik tolak yang sama, maka digunakan uji-t dua pihak dengan kriteria sebagai berikut :
a) Hipotesis :
Ho : 
Ha
: 
Keterangan :
Ho : tidak ada perbedaan prestasi belajar kemampuan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Ha : Ada perbedaan prestasi belajar kemampuan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b) Taraf Signifikansi
Taraf signifikansi
yang digunakan adalah (
= 5%) dan analis data yang akan digunakan uji t dengan rumus :
dengan : 
Keterangan :
: nilai rata-rata dari kelompok eksperimen
: nilai rata-rata dari kelompok k
ontrol
: banyaknya terdiri atas kelompok eksperimen
: banyaknya terdiri atas kelompok k
ontrol
: varians kelompok eksperimen
: varians kelompok k
ontrol
: varians gabungan
(Sudjana, 2005 : 279)
Dengan kriteria pengujian terima Ho apabila -ttabel
thitung
ttabeldengan derajat kebebasan dk = n1 + n2 - 2, taraf signifikansi
5% dan tolak Ho untuk harga t lainnya.
2) Uji Normalitas Sampel
Uji normalitas adalah uji terhadap normal tidaknya sebaran data yang dianalisis. Data dianalisis sebelum diolah dalam rancangan penelitian untuk mengetahui apakah sampel data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Uji normalitas data menggunakan metode Lilliefors.
Sudjana (2005:466) menyatakan, misalkan kita mempunyai sampel acak dengan hasil pengamatan
. Berdasarkan sampel ini akan diuji hipotesis nol bahwa sampel tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal melawan hipotesis tandingan bahwa distribusi tidak normal. Pengujian hipotesis nol tersebut dit
empuh dengan prosedur berikut:
a) Menentukan Hipotesis
Ho : sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
Ha : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
b) Taraf signifikansi yang digunakan adalah α = 5 %
c) Daerah kriteria
Ho ditolak jika Lhitung < Ltabel(1- α) (k-1) dimana Ltabel(1- α) (k-1) didapat dari distribusi Liliefors dengan peluang (1- α) dan dk = (k-1)
d) Statistik uji
(1) Pengamatan X1, X2, X3 ... , Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, Z3 ... , Zndengan rumus sebagai berikut :
Z
i =

Dimana

dan S adalah merupakan rata-rata dan simpangan baku sampel
(2) Untuk tiap bilangan digunakan daftar distribusi normal baku, kemudian hitung : F(Zi) = P(Z≤Zi).
(3) Selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2, Z3 ... , Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi, proporsi ini dinyatakan dengan S(Zi) yang diperoleh dengan rumus:
S(Z
i) =

(4) Kemudian menghitung | F(Zi) - S(Zi) |
Nilai çF(Zi) – S(Zi)ï yang terbesar dinyatakan sebagai Lhitung atau biasa disebut dengan Lo. kemudian dikonsultasikan dengan tabel distribusi normal baku. Apabila Lo < Ltabel maka sampel tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
(5) Apabila Lo < Ltabel dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa Ho diterima yang berarti sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
3) Uji Homogenitas Sampel
Setelah diketahui bahwa sampel berdistribusi normal, maka langkah selanjutnya adalah menyelidiki apakah sampel tersebut homogen atau tidak dengan menggunakan Uji Bartlett (Sudjana, 2005:261-263).
Dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Hipotesis yang diuji
Ho : Sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman homogen
Ha : Sampel berasal dari populasi yang mempunyai keragaman tidak homogen
b) Taraf signifikansi yang digunakan adalah α = 5 %.
c) Daerah kriteria
Ho ditolak jika χ2 ≥ χ 2(1- α) (k-1) dimana χ 2(1- α) (k-1) didapat dari tabel distribusi Chi-Kuadrat dengan peluang (1- α) dan dk = (k-1).
d) Statistik uji
(1) Mencari varian masing-masing kelompok sampel dengan rumus :
S
2 =

(2) Membuat tabel sebagai berikut
Tabel 2. Daftar Uji Homogenitas
Sampel
|
Dk
|
|
S12
|
log S12
|
(dk) log S12
|
1.
2.
|
n1 – 1
n2 – 1
|
|
S12
S22
|
log S12
log S22
|
(n1-1) log S12
(n2-1) log S22
|
Jumlah
|
|
|
-
|
-
|
log Si2
|
(3) Mencari varian gabungan
S
2 = 
(4) Menentukan harga satuan dari semua sampel (B)
B =

(5) Selanjutnya gunakan Chi-Kuadrat dengan rumus :
χ
2 = ( ln 10 )

Dengan taraf signifikansi α = 5 % kita tolak hipotesis nihil (Ho) jika χ2hitung ≥ χ 2(1- α) (k-1) , yang didapat dari distribusi Chi-Kuadrat dengan peluang (1- α) dan dk = (k-1).
(6) Kesimpulan
Jika χ 2hitung < χ 2(1- α) (k-1) maka Ho diterima, yang berarti sampel homogen.
b. Uji Hipotesis
Setelah asumsi bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varians yang sama telah dipenuhi melalui pengujian normalitas dan homogenitas, maka dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian yang telah dibuat. Pengujian ini dilakukan melalui analisis varians satu arah (ANAVA), untuk melakukan analisis ini dibuat hipotesisi sebagai berikut :
Ho : Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievment Division (STAD) dan Prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
Ha : Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievment Division (STAD) dan Prestasi siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional.
Langkah-langkah perhitungannya sebagai berikut :
(1)Menghitung jumlah kuadrat rata-rata dengan rumus :
R
y =
dengan

adalah kuadrat dari jumlah total skor prestasi belajar matematika
(2)Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok
R
y =

(3)Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok
D
y =

Dengan

= jumlah kuadrat (JK) dari semua skor prestasi belajar matematika.
(4)Menghitung besarnya harga Fhitung dengan rumus
F
=

(5) Hasil yang diperoleh dari perhitungan di atas kemudian dimasukan dalam daftar analisis varians (ANAVA) sebagai berikut :
Tabel 3. Anava
Sumber
Variansi
|
DK
|
JK
|
KT
|
F
|
Rata-rata
|
1
|
Ry
|
R= Ry
|
|
Antar kelompok
|
|
Ay
|
|
Dalam kelompok
|
|
Dy
|
|
(6) Membandingkan harga Fhitung dengan harga Ftabel pada taraf signifikansi 5% dk pembilang = 2 dan dk penyebut = (n - k) serta menarik kesimpulan dengan kriteria :
Jika Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak
c. Analisis Lembar Observasi
Pengamatan dilakukan oleh guru dengan dibantu penulis.
Kriteria penelitian :
1) Nilai 1, jika banyaknya siswa yang melakukan aktivitas < 25%
2) Nilai 2, jika banyaknya siswa yang melakukan aktivitas 25% - 50%
3) Nilai 3, jika banyaknya siswa yang melakukan aktivitas 50% - 70%
4) Nilai 4, jika banyaknya siswa yang melakukan aktivitas ≥75%
Analisis hasil observasi =

Dengan ketentuan :
Nilai 1 = Aktivitas siswa dalam kelas kurang
Nilai 2 = Aktivitas siswa dalam kelas cukup
Nilai 3 = Aktivitas siswa dalam kelas baik
Nilai 4 = Aktivitas siswa dalam kelas baik sekali
L. Sistematika PTK
Sistematika PTK sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian.
BAB II : Landasan Teori dan Hipotesis
Landasan teori dan hipotesis berisi tentang Pembelajaran aktif, Metode pembelajaran, Metode pembelajaran kooperatif, Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, Pembelajaran konvensional, Hakekat belajar, Materi pembelajaran segiempat dengan menggunakan metode STAD, Kerangka Berpikir, dan hipotesis
BAB III : Metode Penelitian
dijelaskan tentang metode-metode yang digunakan dalam penelitian meliputi tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitan, variabel penelitian, rancangan penelitian, instrumen penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan, yang didalamnya dibahas mengenai deskripsi data, analisis data dan pembahasan.
BAB V : Penutup
Berisi tentang simpulan dari penelitian dan saran untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
disadur dari: http://senengemaca.blogspot.co.id/2011/07/contoh-ptk-matematika-sd-upaya.html